Jumat, 18 Oktober 2013

Satu Ketika


bertanyalah burung bebas

pada burung di sangkar
                permainya dunia, kasihku
                puaskan hasrat dalam dada
                ungsikan sunyi duka derita
                maka marilah
                dalam lena musim cuaca
                terbang beradu sayap beralih benua.

lalu berkata burung di sangkar
                tapi aku cinta takdirku, kasihku
                hanya dengannya aku dapat
                memesan lapar dan getir kalah
                berbuni hening di malam purnama
                bukankah baik bila perlahan
                kita tujukan laguan sendu bagi dewata?

berkata burung bebas
                selaku telapak tangan Tuhan
menghampar di hari pertama
dunia meranum, kasihku
bunga-bunga terbuka,
kenapa tak kausibak pintu jelajak
ikut jalanku, terbang melayang.

berbisik burung di sangkar
tapi takdir mengunciku di sini, kasihku
tiada berkuasa aku di hadapnya
maka rapatkan sayapmu sekejap
lalu pergilah
sebelum ia menangkapmu jua!

2013

Sabtu Pagi di Pasar Kanoman


berjalan denganmu
di bawah payung berlindung
masih saja baju kita
basah tersiram renjisan,
becak-becak membawa
sayur mayur dan buah
beberapa berhenti di persimpangan
dekat pasar kanoman,
kita mampir sebentar
membeli stroberi
sebungkus rames
juga seikat bakcang,
lalu sekali lagi
berjalan bersisian
mencari pedagang cakue
di dekat parkiran.

seperti biasa
kita selalu senang
mengenangkan hari kemarin
seolah segalanya hanyalah
dingin masa lalu,

tapi rintik sudah lama pudar
meski mendung masih bertahan
aku memandang garis samar di sudut matamu
dan menemukan dongeng-dongeng kekal di sana.

14 Oktober 2013


bagaimanpun
kau tetap satu-satunya alasan
kenapa aku suka membuka payung
begitu hujan mulai turun =).

Pukul Tiga Pagi



—beberapa catatan insomnia

1.
tiba-tiba ia dengar hujan di kepala
padahal langit demikian terbuka
maka ia sibak pintu minimarket
berharap bisa memesan kantuk di sana.

2.
bagai lengan-lengan sunyi
di kantung celana pejalan insomnia
trotoar, jalan dan lampu kota, kaku
dalam dingin,
daun-daun lerai meski cuaca tak lagi berangin
lalu keresak hening di pohon beringin, tapi
di manakah kita?

3.
bilur-bilur duka kembali terbuka
ketika kenang di kota tua
meneduhkan lagi
rindu, di lubuk sanubari
kau menjelma seekor burung
di puncak menara gereja santo ignatius
aku menjelma pohon beringin
dengan dingin masa lalu
di dinihari nan senyap, lonceng berbunyi
tapi kita memilih
tiada.

4.
Tuhanlah
tanah lapang di seberang gereja
tempatnya biasa berbaring
dengan perut lapar dan hati tegar,
malam memang tak punya rumah -- batinnya
tapi ia cukup ramah menyambutku pulang,
di menara bulan menyala
redup bagai lilin di meja penyair
tapi kenapa, cerita dan peristiwa
berlalu sepi di hati?
kenapa, kita tak pernah benar mengerti?
kecuali derit dan jerit sakit
mungkinkah kita hanya daun-daun dileraikan musim?

5.
daun-daun lerai
lampu-lampu beku
persimpangan tak terlihat
kabut-kabut dimakan batu
tiba-tiba saja
rindu terbit di dadaku.

(2013)

Di Sepanjang Jalan Ampera


hatiku, tak pernah seteduh
malam di musim penghujan
ketika bersamamu menembus sisa-sisa kabut
di balik tenda becak berlindung,
daun-daun lerai di pudar siluet lampu
harum tanah tercium di sepanjang jalur kelabu
kau berkeluh
kemeja putihmu basah tersiram renjisan.

bayang-bayang pohon tertimpa lampu kota
bagai tahun-tahun di selembar potret tua
pemandangan sederhana di sebaris hujan
barangkali hanya sebatas tanda
putik telah berganti buah
terlipat bersama kelopak bunga,
di sepanjang jalan ampera
daun-daun jatuh memutar.

20 September 2013

Minggu, 22 Juli 2012

Review Film - The Dark Knight Rises (2012)



Director Christopher Nolan  
Writers Jonathan Nolan, Christopher Nolan  
Story Christopher Nolan, David S. Goyer  
Cast Christian Bale, Michael Caine, Gary Oldman, Tom Hardy, Anne Hathaway,
Marion Cotillard, Morgan Freeman

Bahkan, saya masih terpukau dengan Batman Begins dan The Dark Knight (TDK) ketika Nolan merilis epik Batman (semoga bukan) terakhirnya, The Dark Knight Rises (TDKR). Akting brilian mendiang Heath Ledger sebagai penjahat psikopat nan jenius, Joker, di film TDK membuat saya terlalu fokus dengan tokoh villain di TDKR, Bane (Tom Hardy) dan cenderung membandingkan keduanya. Padahal, tokoh utama di TDKR adalah Batman, alter ego Bruce Wayne (Christian Bale), seorang aristokrat ternama dengan kekayaan setara Paman Gober.

Wafatnya legenda Harvey Dent (Aaron Eckhart di TDK) delapan tahun lalu membuat penduduk Gotham bahu-membahu menata kotanya sendiri. Takluknya para penjahat pada hukum Dent membuat seisi kota tidak lagi membutuhkan Batman, apalagi ketika sang kelelawar dianggap sebagai penyebab utama kematian ksatria putih tersebut. Sedang di sisi lain, Bruce Wayne memilih bergeming di kastilnya dan menolak berbaur di dunia luar karena masih berduka atas kematian teman sejak kecilnya, Rachel Dawes (Maggie Gyllenhaal di TDK), bahkan bujukan pelayan setianya Alfred Pennyworth (Michael Caine) tak mampu membuatnya berubah pikiran. Barulah setelah seorang pelayan mencuri kalung mutiara peninggalan ibunya, Bruce kembali bergerak. Dengan teknologi mutakhir, ia pun berhasil membongkar kedok pelayan tersebut sebagai seorang pencuri andal bernama Selina Kyle (Anne Hathaway). Pertemuannya dengan Selina merupakan kebangkitan pertama Bruce Wayne.

Kemunculan Bane dan rombongannya di bursa saham demi mengambil alih kekayaan Wayne Enterprises membuat Batman harus kembali beraksi. Namun, alih-alih menangkap penjahat, Batman justru dikejar lusinan polisi dan membuatnya harus mengendarai mainan barunya, Batwing. Esok harinya, Bruce meminta bantuan Miranda Tate (Marion Cotillard) dan Lucius Fox (Morgan Freeman) untuk menjaga perusahaan peninggalan orang tuanya agar tidak jatuh ke tangan orang-orang tak bertanggung jawab. Kehadiran Bane dan permohonan komisaris Gordon (Gary Oldman) di rumah sakit merupakan kebangkitan kedua Batman.

Ternyata, Bane adalah salah satu anggota League of Shadow, dan ia ingin menuntaskan tugas Ra’s Al Ghul (Liam Neeson di Batman Begins) membumihanguskan kota Gotham dengan memakai nuklir. Bane bukan penjahat biasa, dengan kepintaran dan kekuatan luar biasa, ia langsung menjadi mimpi buruk bagi Gotham. Bahkan, pada Batman, ada hal ikonik dan bersejarah di komik dilakukan Bane di sini, dan saya tak ingin membocorkannya.

Di sisi lain, sepak terjang tokoh John Blake (Joseph Gordon-Levit) sebagai detektif bawahan Gordon cukup vital membangun perkembangan cerita, bahkan ketika Bruce sedang mendekam di penjara, ia berhasil membela Gotham dengan caranya sendiri. Menurut saya, dialah tokoh utama di TDKR, bersanding dengan Batman =).

Bila dalam dua film Batman terdahulunya, Nolan seolah ingin mengambil sudut pandang berbeda dengan komiknya, di The Dark Knight Rises, sang sutradara justru banyak menyajikan dengan baik elemen-elemen ikonik di komiknya tanpa harus terlihat kekanakan, dan hal tersebut membuat TDKR menjadi sebuah penutup sempurna bagi petualangan Batman—maaf—semua warga Gotham. Tak ada tokoh superhero di sini, selama 2 jam 44 menit kita disuguhi pemandangan bagaimana Batman dan Gotham kembali bangkit membangun reruntuhan dengan tetap percaya, pada harapan. Nolan telah memberikan kita sebuah tontonan epik, menghipnotis dan indah – bahkan ketika kota Gotham sudah dikuasai teror, saya makin merasakan keintimannya. Sampai akhirnya, setelah layar ditutup dan credit title mulai bergulir, kita tahu Bane salah. Harapan, tak pernah sia-sia. []

8 / 10
(di luar dugaan, TDKR melebihi harapan saya)

22 Juli 2012
(dua hari setelah menonton filmnya di bioskop Cirebon bareng istri)


Tambahan
Ada hal lucu, perampokan di bursa saham seperti terjadi di siang hari, namun setelah adegan kejar-kejaran di terowongan, tiba-tiba langit sudah malam. Mungkin saya salah, tapi timeline-nya sedikit kacau di sini.

__________________________________________________
Postingan The Dark Knight Rises adalah review film pertama saya. Semoga bisa dijadikan kebiasaan =).