Sabtu, 18 Juli 2015
Cinta Pertama
Selasa, 06 Maret 2012
Perempuan Penjaga Wartel
Setiap kali berkunjung ke perpustakaan, saya sering bertemu dengan seorang perempuan yang suka membaca buku-buku Pablo Neruda. Saya bisa tahu karena saya pernah meminjam salah satu bukunya (padahal saya tak pernah membaca buku puisi sebelumnya).
Saya pun menuliskan sajak di selembar kertas, tentang betapa anggunnya dia waktu sedang membaca. Sajak itu saya selipkan tepat di halaman tengah buku dan menaruhnya di rak yang mudah dijangkau olehnya. Keesokan harinya, benar saja, ketika membacanya, dia pun tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan, dan sepertinya dia bisa menebak siapa penulisnya, karena sesaat, matanya menangkap basah saya yang sedang menunduk dengan pipi semerah tomat.
Kemudian, saya pun tahu, dia adalah perempuan penjaga wartel yang bekerja di depan perpustakaan. Di jam istirahat maupun libur, dia senang menghabiskan waktu dengan membaca. Saya jadi sering menyewa telpon meski tujuan utama saya adalah melihat senyumnya dari balik kaca, dan bila beruntung, saya juga bisa melihatnya membetulkan rambut sambil menggigit ikat merah jambu kesayangannya. Manis sekali.
Setelah berminggu menjadi pelanggan, akhirnya saya berhasil mendapatkan nomor ponselnya. Saya pun memutuskan menelponnya di wartel tempatnya bekerja. Kebetulan saat itu sedang jam makan siang, jadi kami bisa lama mengobrol, hingga setengah jam lebih.
Dia pun terbahak, waktu saya membayar dengan sekantong permen yang sering ia berikan sebagai ganti kembalian. "Terima kasih untuk obrolan manisnya," canda saya. Tepat di sebelahnya, saya pun meletakan buku "The Essential Neruda: Selected Poem", yang saya beli dengan upah hasil magang sebulan. Dibalik buku itu ada secarik kertas, di mana hanya dia yang tahu, apa yang tertulis di dalamnya.
=)
— 07 Maret 2012 —
Terinspirasi tulisannya Kak @hurufkecil di twitter, dan ditulis sambil menikmati lagu-lagunya Anri Kumaki di album Hikari no Toorimichi =).
Selasa, 01 Juni 2010
Arah
Aku akan menceritakan padamu, tentang seorang pengelana yang tunduk hatinya pada keputusasaan. Yang setiap harinya selalu dirudung pilu, bertudung ragu dan penyesalan. Ketika kau bertanya siapa ia, maka bermulalah ceritera ini:
Tersebutlah nun di sana, seorang pengelana hendak pergi untuk mengejar mimpinya. Sebelum keberangkatan, gurunya berpesan agar ia tak tersesat, karena keagungan tak dapat ditemui di tempat lain. Dan apabia tersesat, mustahil ia dapat kembali. Maka dipegangnya teguh amanat guru.
Ketika awan memeluk tidur, perjalanan pun dimulai. Saat itu, matahari tengah dini dipagari pepohon willow dan angin utara yang melambai daunan siprus. Sang Pembesar Jiwa memberkati kesehatannya, hingga pandang matanya senantiasa tertuju mulia.
Kini, telah ia temui tempat yang tinggi dan rendah, gurun dan pematang sawah, hingga padang ilalang, laut dan pemuncak gunung. Namun tak ia temui pencariannya. 'Di manakah dataran luas tempat harta yang kucari ditanam?' ia bertanya pada sesiapa. Tanpa disadari, matahari tengah condong tenggelam.
Tahun berlalu. Pengelana duduk di tepi muara di sebuah desa dan menyadari ketersesatannya. Sepanjang hari ia menangis. 'Guru, aku menyesal,' rapalnya dalam hati berkali-kali. Ketika itu, seorang tua mendatanginya. Melihat wajah galau pengelana, ia bertanya, 'Adakah yang kau sesali, anak muda?'
'Aku tersesat, menderitalah aku!' ujarnya.
'Aku melihatmu bagai seekor tupai yang menangis terbeban emas di-punggung. Seperti seorang berputus asa pada harapan tak hingga. Kau tak akan mati kehausan di tengah aliran sungai nan jernih, yang airnya bahkan bisa menyembuhkan. Maka tengoklah apa yang telah kau raih,' ujar kakek disampingnya.
'Aku di sini, di lembah kematianku sendiri,' ucap pengelana.
Kakek itu tetap menemaninya, meski pengelana tak hendak berbuat apapun. Ia tetap tunduk pada keputusasaan, menghabiskan harinya dengan menangis dan menepuk-tepuk dada. Pengelana tak tahu, tempatnya bersinggah adalah hal yang megah, pun begitu banyak yang bisa diperbuatnya di sana.
Namun yang paling membuatmu pedih adalah, bahwa ia tak pernah tahu, apa yang ditemukannya kini jauh lebih indah dari apa yang dicarinya dahulu.
Ditulis oleh Rafael Yanuar (26 Mei 2010)
Senin, 17 Mei 2010
Memeluk Hujan
Tersebutlah di sebuah desa, tinggal seorang pengelana tak bernama. Yang selalu membawa peta di tangan kirinya dan kompas di tangan kanannya. Di pundaknya terikat gitar yang selalu ia mainkan saat malam terang bulan. Orang-orang desa kerap memanggilnya Si Pengelana.
Suatu malam, di depan muara di tengah taman bambu, bersama kodok-kodok ia pun bersinggah. Setelah meletakan kompas-petanya, ia memetik gitar dan menyanyikan lagu tentang cinta. Perlahan dari rimbun sesemak, kunang-kunang menyembul ke tengah mereka. Pengelana tersenyum sambil terus menyanyi, lalu berjalan mengelilingi tepi muara. Seusai satu lagu ia menyelupkan tangannya, mengambil setangkup tirta untuk kemudian ia reguk. Di atas batu, ia merenung sejenak berhela, rembulan tertutup awan.
Dulu, saat pengelana kali pertama singgah di desa, ia bertemu seorang gadis secantik aurora. Pengelana sedang memetik gitarnya kala itu dan si gadis menari seiring nyanyian. Gemulai gerakannya hadirkan getar jemari.
‘Senang rasanya ada temanku di sini,’ ucap si gadis. Pengelana yang baru datang ke muara tersenyum, ‘kau sering kemari?’
‘Setiap terang bulan, aku harus mengirimkan sepucuk surat untuk Sahabatku.’
Dicumbu kehangatan angin malam, mereka bercengkerama hingga terlupa. Seperti benih kasih yang tumbuh tanpa ditanam, seperti pula perasaan hangat bergenggam cinta, mereka pun saling jatuh di selaksa rasa. Namun Pengelana harus melanjutkan perjalanan seketika pagi membuka hari, ia pun berjanji akan kembali.
Setelah mengucap ‘selamat tinggal’, Pengelana tak lagi terlihat. Sang gadis menunggunya sambil menunduk mengair mata. Tetapi yang ia temui hanya sepucuk daun dan kunang-kunang yang tak seterang dulu. Hingga suatu hari, saat hujan merinai, ia terkapar. Esoknya ia ditemukan tak bernyawa di muara itu.
Lima tahun berselang, Pengelana kembali ke desa dan membeli sebilik rumah di dekat muara. Dan dengan penuh harapan ia pergi menemui cintanya yang hilang. Namun kerap kali mengunjungi muara, tak pernah gadis itu terlihat.
Tanpa tahu apa yang terjadi, ia pulang sambil tersenyum. Berbisik dalam hati, menatap rembulan di kejauhan, dan berkata ‘esok pasti ia datang.’
Di atas sana, awan menangis dan menurunkan hujan.
Ditulis oleh Rafael Yanuar (Mei 2010)
