Jumat, 24 Juni 2022
Rembulan Ganda
Mati Lampu
Kakek dan Cucu
Minggu, 27 Oktober 2013
Ketika Semata Sunyi
Ketika semata sunyi di labuhan bintang-bintang
Karena ditulis di hari ulang tahun Renren, jadi sekalian saja dibungkus kertas kado =).
Jumat, 13 April 2012
Bandara Dekat Rumah
Sayang, ingatkah,
ketika berumah di dekat bandara
setiap malam kita suka duduk di lantai dua
sambil mencari bintang paling terang
tuk kemudian dijadikan satu-satunya
benda berharga milik kita.
Lucunya,
meski belum pernah naik pesawat
kita telah merayakan
berbagai macam perjumpaan, sebab
ketika pesawat mendarat
getarannya selalu sampai di lantai rumah kita.
Kini, sudah lama kita tak tinggal di sana
bandara pun hendak dipindahkan sebentar lagi
aku membayangkan betapa sepinya keadaan di situ
tanpa deru pesawat dan dengung pengeras suara
kau pun pasti merasa sedih, bukan?
Ketika jalan-jalan
hanya menyisakan kenangan.
Lalu, ketika segalanya tak lagi sama seperti dulu
bintang paling terang, masihkah berpijar
di beranda langit kita?
13 April 2012
Merenovasi Rumah Tua
Sabtu, 07 April 2012
Malam Kunang-kunang
– Papi
Pada suatu malam di kampung halaman
kunang-kunang muncul di balik ilalang
terangnya bak semburat purnama
mengembara di rimba gurita
tabahlah malam walau tiada lagi
dapat pendarkan cahaya.
Hujan pun menghamburkan sepi dalam tubuh puisi
beberapa rintiknya jatuh menerobos sunyi –
waktu berjalan pelan bagai sisa umur menziarahi masa lalunya sendiri
di lumbung kenangan, daun-daun meluruhkan hening hari.
Malam kunang-kunang di kampung halaman
tak pernah lagi dapat aku saksikan
hanya batu dan sayup rumputan
ditiup kesiup angin kemarau
engkau dan aku hanya tinggal masa lalu
segalanya telah berlalu.
Malam pun melipat sayapnya
melepaskan segala kenangan –
menjadi hening.
Hanya hening.
Apalagi?
2007
Aku Ingin Pulang
– Papi
Ayah
aku ingin pulang.
Menyusuri hamparan persawahan
menyaksikan matahari terbit dan terbenam
di kota kecilmu.
Tapi sekarang — kau berkata
kotaku tak lagi sama.
Ia serupa detik di sebuah jam tua
tak pernah bisa mengabadikan apa-apa
dan kita — hanya mampu membentuk kecemasan
bagai reranting tersapu angin
gelisahkan udara.
Aku hanya diam
menikmati semlir angin membawa hangat ingatan
menyaksikan burung-burung sunyi melintas jembatan
kita terus mengenangkan hujan semalam
dan merasa sangat kesepian.
Ayah
aku tetap ingin pulang.
Sebab di kotamu, bulan selalu pualam
bintang-bintang menyentuh langit dengan bayangan abadi
di teduh matamu.
Kau tersenyum —
Bukankah kesendirian membuat kita tahu, cinta ada?
Dan aku kembali disamarkan kenyataan
kau telah tiada.
Hanya bayangmu, senantiasa
tak lagi berubah.
Sebuah pusara.
27 Agustus 2011
Aroma Musim Panas
Percakapan Kecil di Sebuah Hujan
Aku sedang berada di toko bunga
ketika sulur-sulur kabut mulai terlihat
dan jari-jari hujan menanam akarnya
di tubuh bumi.
Di depan jendela
di dekat jam penghitung denyut
—dan pertemuan
kausedang merapikan beberapa kembang
dan meletakannya rapi bagai sebuah lukisan
dengan warna cerah menghadap langit.
"Untuk apa jendela dibuat?" tanyaku
ketika aku membantumu merangkai kembang
dan kita sama-sama merasakan butiran hujan
membasahi tubuh dan baju.
Kau pun tertegun
kemudian menuntunku memasuki ruangan,
hujan masih menanam bibit mungil waktu
di tanah depan rumahmu.
"Bukankah kita sama tahu
jendela dapat membuat kita menikmati hujan
tanpa perlu merasa kedinginan?"
Aku tersenyum
"Kau benar, dan aku bisa membuktikannya padamu,"
—kataku
sambil mengajakmu menyatukan jemari
kiri dan kanan, dan mulai menciptakan hangat
dengan pelukan.
— 5 April 2012 —
Selasa, 03 April 2012
Dua Puisi Hari Kemarin
: Papi
- 01
Lamunan Sebelum Fajar
Ketika bulan sedang purnama
bapak selalu terbangun tengah malam,
mata coklatnya berhadapan dengan mata jendela,
Seolah bergumam.
“Haruskah aku bekerja lagi
memotong kayu bakar
menyiangi ladang
dan berteduh di bawah pohonan rindang
sebab malam terlampau panjang
tuk dihabiskan di dalam kamar.”
Lalu, ketika kelepak samar kelelawar
mengelitik daunan kuning, dan burung kecil
mencari makan di balik reranting kering
bapak pun memandang jendela lama sekali.
- 02
Kenangan Sebelum Fajar
Di depan mata jendela
desau angin meniup baling-baling
udara mengetuk begitu tajam
cahaya tak pernah memejamkan mata
derik jangkrik mengusik alangkah hening
malam hidup, meski desa tertidur pulas.
Aku ingat
bila terjaga tengah malam
bapak pasti duduk di depan jendela
matanya demikian awas
melihat Tuhan bekerja.
20 Maret 2012
Perempuan di Balik Jendela Hujan
: Anri Kumaki
Aku menyukai gerimis di beranda rumahmu, Anri
butirannya selalu mampu meriapkan harum pada tanah nan hidup
aku mencintai pemandangan teduh manakala
kau tersenyum merenung bisikan bunga-bunga di seberang jendela.
Tak seperti hujan deras diremas halimun, Anri – hujan kecil-kecil
di beranda rumahmu
tak sekadar memekarkan sunyi
di butirnya mengalir damai – seperti hendak mengajak rindu
semakin dalam menyusur ingatan.
Sebab ketika cinta menubuh pada bening waktu
segala cuaca tak lagi memiliki nama
gerimis pun ingin menatapmu lebih lama
sebelum langit menghapusnya
dan pagi menjadikannya
tiada.
4 Maret 2012
Asa
Ibu, pernah kita habiskan malam bersama
bercengkerama tentang kenes-nya Ibu Pertiwi
cuaca sedang sejuk – angin sepoi melambai
luka-letih akibat kerja sehari cepatlah mengering.
Aku ingat
bilik kita sederhana saja –
selalu ada angin masuk melalui lubang dindingnya
namun kendati siupnya melebur bersama dingin di depan jendela
kita masih merasakan hangat.
Hikayat cinta tertulis mesra di dalam kebersahajaan kita
cerita-cerita indah tentang negeriku
senantiasa mengantar tidurku
namun bencana nista melanda tanah air kita
tiba-tiba saja, dalam waktu singkat – aku menjadi sangat sendiri
kau pergi menuju rumah ilahi
menyisakan jejak air mata dalam dadaku.
Kini, dongeng-dongeng tentang negeriku nan kaya
hancur manakala televisi masih saja memberitakan
sibuknya perwakilan kita
mengatur jam rapat dan gaji.
Lumpur-lumpur pengubur rumah kita, Ibu
mungkinkah kelak menjadi legenda – tentang para pembual
bernama pemerintah
manakala kebenaran diinterupsi hegemoni
dan rakyat menjadi sasaran kepentingan.
Ibu, tiba-tiba saja
aku jadi takut berharap
apalagi berdoa
mungkinkah pemimpin kita masih memiliki hati nurani?
14 September 2011
Jumat, 16 Maret 2012
Hachiko Monogatari
- 01
Di depan stasiun Shibuya
dia selalu berharap, sebuah janji dapat tertuntas
bahkan, setelah ia tahu
tak ada apa-apa
selain musim
selain ranggas daunan diremas lengan-lengan usia.
- 02
Mungkin
hanya pada derit-derit rel kereta tua
ia dapat bertahan tanpa sepatahpun kata
hanya harapan, pun sebait doa
dua jiwa dapat bertemu kembali.
Pada akhirnya
ia selalu percaya, ada jawaban di setiap penantian
di mana kenangan dapat menjelma pertemuan
bahkan tanpa perlu sambut pelukan
namun, sampai kapan, Hachi
kau mampu bertahan
menyembunyikan kenyataan, membiarkan tahun-tahun
terserak dalam penantian tak bersambut?
23 Juli 2010
Selasa, 13 Maret 2012
Benih Air Mata
Ayah, izinkan aku menanam air mata
di tanah tempatmu dipendam
dan biarkan ia tumbuh sebagai pohon
di mana rimbun daunnya selalu mampu
menaungi bumi rinduku.
Hingga nanti buahnya jatuh
sebagai makanan musim
dan rindu terus terbata membaca cuaca esok hari
biarkan air mata mengalir
menumbuhkan kenangan
di seluruh
perhentianku.
13 Maret 2012
Indonesia
Tanah airku, Indonesia
darah-jiwanya mengalir
jadi air sungai cinta
dalam dadaku.
Tanah airku, Indonesia
dulu alangkah kaya
malah katanya
tongkat batu bisa jadi tumbuhan.
Damai negeriku, damai bangsaku
bersama sahabat membangun bangsa
bertopang fondasi nan kuat
negeriku bertuhan, bersatu dengan harapan
memberi keadilan bagi seluruh rakyat
dalam rasa perikemanusiaan
: adil dan beradab.
Namun sekarang
Indonesia sakit
tubuhnya terlampau banyak dikerat tikus berdasi
sayap-sayap garuda dipatahkan wakilnya sendiri
korupsi bagai makanan sehari-hari
pemimpinnya kehilangan hati nurani.
Negeriku Indonesia
kini dipenuhi air mata
Ibu Pertiwi menangis tersedu-sedan
dan pemimpinnya hanya mampu berkata
"Prihatin!"
17 Agustus 2011
dan aku hanya menulis puisi?
Senin, 12 Maret 2012
Mati Lampu
Aku suka memandang lilin milik pedagang kaki lima
ketika listrik tiba-tiba padam
bintang-bintang menyala bagai perapian
mengalir hangat di dalam dada.
Hanya ketika listrik padam
kota temaram
semuanya mencari terang di luar rumah.
Seusai hujan udara lembab
langit tampak bersih seolah habis dicuci
aku senang merenung bulan berlama-lama
sambil mengenang suasana di kampung halaman
aku sering tak sengaja
memikirkan senyum cinta pertama
masihkah semanis pertama jumpa?
Tak terasa aku melamun begitu lama
lampu kembali menyala, malam menjadi batu
di halaman hujan tiba-tiba turun
deru isyarat tentang sebuah kehilangan
tiba-tiba saja terdengar
namun bukankah kita sama tahu
hanya dalam keadaan tanpa cahaya
kita dapat melihat cahaya.
12 Maret 2012
Desaku
Masa lampau
ketika sungai di desaku
masih bening airnya
purnama sering tergelincir
di permukaannya.
Anak-anak bermain sambil menyanyikan tembang Jawa
para ibu bercengkerama di tudung pohon cemara
pada hijau alamku, kemilau embun masih purba
menorehkan sejuk di benak siapa saja.
Kini desaku masih kaya
– setidaknya kata pendatang
meski hutannya tak lagi selebat dulu
hujan melulu berbuah banjir
langitnya dicemari polusi udara dan pabrik.
Anak-anak memilih bermain di dalam rumah
sebab di depan pintu, cuaca tak lagi ramah.
Desaku demokratis
banyak reklame partai
tertancap di tanahnya
desaku maju
akibat termakan rayuan retorika pembangunan.
Desaku berubah
rembulan enggan bercermin di keruh sungainya
sawah-sawah diracuni pestisida
penduduknya dipaksa memikul duka kemiskinan.
Tanah air kecilku, tuan, kini bermandi korosi
manakala segalanya selalu saja
dilumpuri kepentingan politik.
13 Maret 2012
Sabtu, 03 Maret 2012
Kita Menamainya Senja, Bukan?
Sebuah pemandangan sederhana
manakala langit membawamu
pada suatu tempat
di mana kau pasti disambut
dengan pelukan hangat
sementara di sini, hanya ada kehilangan
dalam dadaku.
Namun bukankah hidup
seringkali berada
di antara perpisahan dan pertemuan.
Lalu, ada di sisi manakah
kerinduan
kauletakan?
03 Maret 2012
Sasmita Alam
Pada sembab malam
ketika kunang-kunang
berpendaran di telapak ilalang –
malam pun menciptakan kehidupanya sendiri
kehidupan penuh rahasia
di mana kita—manusia, tak pernah mampu
menyintuhnya.
27 Februari 2012
