Dua kelingking yang bertautan, punya debar yang lebih abadi, dari janji itu sendiri.
- Disa Tannos
/1/
Suatu malam di bulan Agustus. Langit hening. Kita berjalan menyusuri sepanjang sisi kota, berdua. Setelah lama hanya dapat melihatnya di layar kaca, akhirnya kita sampai juga di sini, di kota Jakarta. Bintang tak tampak, pun dia, dewi purnama. Tapi malam demikian mesra menyentuh benak kita.
Perlahan, aku menggenggam tanganmu. Kita turut merasakan nadi kehidupan Ibu Kota, dan menyaksikan denyut kesibukan yang melingkupinya. Gedung-gedung berdiri di sisi kiri dan kanan jalan, malam bermandi cahaya. Kita, yang sehari-harinya hidup di desa kecil, selalu takjub setiap kali berdiri di kota besar.
"Kau tahu," bisikmu, "mengapa lampu jalan selalu menghadap ke bawah?" Kau menunjuk beberapa lampu yang berdiri di dekat jembatan penyeberangan.
Aku melihatnya. "Karena memang dirancang demikian," kataku.
"He-he, ada hal lain," kau melepaskan genggamanku dan meletakkan tanganmu di belakang punggungmu. Aku selalu suka mendengar kata-katamu. Sederhana, namun mengena.
Kau menatapku - selalu begitu setiap kita bicara, "tahukah, lewat lampu kota, manusia ingin mencipta bintang," kau menunduk, memandang pantulan cahaya di bawahmu, sambil berjalan, "bintang kecil nan hangat, nan cerah, dan bersinar pada malam hari." Kau memainkan anak rambutmu, memilinnya dengan jemari, dan termenung.
"Pun," kau berkata lagi, "jika biasanya Tuhan menciptakan bahan dan manusia menjadikannya obat, kini terbalik."
"Terbalik?" tanyaku heran. Aku mulai tertarik dengan kata-katamu.
Kau mengangguk, "pernah tidak kau berpikir, bahwa lampu kota - ciptaan manusia, diolah Tuhan menjadi obat?" Matamu berbinar-binar.
Aku menggeleng, "mungkin setelah mendengar jawabanmu, aku akan berubah pikiran."
Kau tertawa dan menunjuk satu-satunya pohon di seberang jalan, daunnya sudah banyak berjatuhan di trotoar. Di belakangnya ada minimarket 24 jam dan seorang kakek penyapu jalan, sedang duduk di sebuah bangku tua. Semuanya bermandi cahaya.
"Lampu kota, telah diubah Tuhan menjadi penyembuh, bagi kesedihan dan kesunyian semua makhluk-Nya," katamu, "seperti cahaya, menyentuh kita dengan hangatnya. Sederhana."
Aku diam saja meresap kata-katamu. Terharu. Kau benar, terkadang, justru lewat hal-hal kecil, kita dapat mendekatkan hati pada Sang Pembesar Jiwa.
Aku membuka suara, "barangkali," bisikku, "ada satu hal lagi."
Kau melihatku.
"Lampu kota juga dapat meneduhkan sebuah pertemuan," aku tersenyum, membalas tatapanmu. "Sebab pendarannya serupa sayap yang menyentuh tubuh kita."
Aku kembali menggenggam tanganmu, "bukankah sekarang, kita bisa merasakan hangat, meski cuaca sedang dingin?"
Kau terdiam, memandang mataku dalam-dalam, seakan menemukan sesuatu di sana. Aku gugup. Matamu terlalu indah. Terlalu dekat.
"He-he, betul kan?" aku mengelus rambutmu, kemudian mengacak-acaknya, kau tak sempat menghindar. "Kebiasaan! Jadi berantakan, kan?" Kau bersungut dan merapikannya lagi.
Aku tertawa, kemudian mengajakmu duduk di bangku di sebuah kedai kopi -mereka menyebutnya kafe, kita memesan dua cangkir teh dan menyesapnya perlahan, "kelak, meski malam tak lagi mengenal kita, dan kenangan hanya ada dalam ingatan pohon tua, mungkin rindu tetap bisa bernaung di bawah lampu kota, tempat ia biasa berteduh dan berlindung dari musim kesedihan," kau menatap ke lepas jendela, lalu terdiam, memikirkan kata-katamu sendiri. Pun aku.
Setelah di dalam cangkir hanya ada ampas, kita pun meneruskan perjalanan. Aku melihat jam, malam sudah larut. Gerimis tumpah. Perlahan, kota terlihat buram, seolah berbaur dalam satu pejaman.
"Aku tak bawa payung," katamu. Panik. Lalu merapatkan jaketmu. Aku segera menaruh tanganku di kepalamu, supaya tak pening terkena siraman air. Kita langsung berlari mencari tempat kering.
Beberapa menit kemudian, kita berteduh di depan pertokoan. Cukup lama, meski cipratan masih mengenai kaki.
Kota terlihat ganjil di tengah siraman hujan. Sementara pandangan mulai kabur, mobil-mobil masih melaju menembus malam. Entah sudah berapa lama kita berada di sana.
Kota tak jua lelap.
Hujan bertambah deras.
Seketika, kita merasa sunyi.
/2/
Kini, setahun berlalu. Aku berdiri di depan kafe, tempat kita pernah menghabiskan malam bersama. Aku menatap lampu kota di selatan jalan. Lampu itu empat nyalanya. Tapi dulu, sekarang tinggal dua, redup, dan catnya mulai mengelupas.
Aku tersenyum, menghampirinya. Lalu membiarkan cahaya menyentuh sekujur tubuh. Di sekitar tiang, laron-laron beterbangan. Sama mencari hangat di tengah pias lampu.
"Aku selalu mengingatnya, bagaimana mata dapat menambah indah percakapan," aku mengenang kata-katamu. Lalu mencoba menggambar parasmu dan menyimpannya dalam ingatan. Senyummu terus termangu dalam benak.
Sekarang kau sudah tiada. Malam luruh dalam tangis September, sedang langit, tak lagi mampu membendung kesedihan. Hujan turun, sama seperti setahun lalu. Aku hanya diam, membiarkan hujan membawa air mataku. Aku berharap ada perasaan lega menyusup, lantas menderas nerkamkan sesak.
"Kau benar," aku menatap langit.
"Setidaknya lampu kota dapat mengobati rasa rindu padamu, meski tak pernah benar-benar bisa - menyembuhkannya."
Rafael Yanuar (21 Agustus 2011)
Satu-satu bintang pergi, rindu berdiam menjaga pagi.
Senin, 22 Agustus 2011
Lampu Kota
Selasa, 09 Agustus 2011
Buku Antologi Sajak Rafael Yanuar - Serenada Penidur Hujan
• Telah terbit! Buku sekumpulan sajak Rafael Yanuar - Serenada Penidur Hujan. Harga per-ekp Rp.45.000,- sudah termasuk ongkos kirim. Silakan ditransfer melalui
(BNI) 0214391398
atas nama Noviyanti Souw.
• Untuk pemesanan
e-mail: lonceng_fajar@yahoo.com
SMS: 089660329252
Twitter: @opiloph
• Sampul buku
Penerbit: Indie Book Corner
Harga : Rp. 45.000,-
Tebal : 110 Halaman
Cetakan I : Juli 2011
Ilustrasi : Micka
Desain sampul: IBC Team Work
ISBN : 978-602-9149-12-8
FREESIA
Pada hari seroja kembang
aku teringatkan
kau perkenalkan harum paling asing
pada bunga-bunga tak bernama
kini semua tampak akrab
wangi lenak samar-samar
: kenangan tak berbalas
di sudut kota sunyi
tempat kau pikul bakul bunga
cerah warna
: dunia kita, rumah kita.
______________________________
JEDA
Meski kata-kata ini hanya khiasan tak pasti tentang rasa, namun percayalah
tak perlu ada jeda yang membuat kita bisu untuk saling mencari, di pandang mata masing-masing
sebab ketidakpastian pasti hadir mengukir jalan yang terlampau
panjang berliku
Dan yakinlah pada ujung perjalanan, selalu ada senyum menunggu
atas keteduhan batin dan ketabahan jiwa
yang tak terkatakan oleh apapun jua, tak lekang dilesap zaman-zaman
di sanalah kita ukir prasasti janji pasti
Aku tak butuh jeda untuk mencintaimu
Rafael Yanuar (24 Januari 2010)
Kesan Sahabat Pada Serenada Penidur Hujan
Rafael Yanuar adalah seorang yang istimewa. Lebih dari sekedar talenta merangkai kata, tulisannya istimewa karena mampu merefleksikan karakter positif Yanuar dalam bait-bait puisi yang menyampaikan perasaan damai bagi pembacanya. Di komunitas Yahoo!, tempat saya pertama bersua dengannya, id-nya adalah Florescence-Symphony (Simfoni Musim Bunga), suatu alias yang sangat sesuai!
Minatnya pada filosofi melahirkan puisi-puisi sarat penghayatan makna kehidupan (misalnya pada trilogi Vampire- Kotak Musik –Akhir Zaman; sayang ia tidak mencantumkan deskripsinya – saya sangat banyak belajar dari puisi-puisi filosofis Yanuar). Tema serius tentang esensi kehidupan tidak membuat tulisannya jadi “berat”. Terkadang sekedar berupa kilas atas suatu momen sederhana, yang setelah diendapkannya jadi menyimpan makna filosofis di balik metafora-metafora. Sebagian besar puisi dalam antologinya punya karakter serupa, apa pun tema yang diangkatnya: ringan, penuh perasaan, jujur, dan menuturkan arti hidup tanpa menggurui.
Karena itu, saya tidak kaget melihat puisi-puisinya disusun berdasar kategori yang tidak umum: Pagi, Siang, Sore dan Malam. Bagi seorang Yanuar, puisi adalah lantunan perasaan yang mengalir tanpa peduli jam berapa. Sebagian orang menganggap “pagi” adalah simbol harapan, sedangkan “malam” adalah saat-saat kelam dan sepi. Namun dalam antologi ini kita membaca makna lain malam sebagai waktu cengkrama mesra bulan dan gemintang, dan “pagi” sebagai sebuah pemenuhan janji. “Siang” adalah pengelanaan, sedangkan “Sore” adalah senja yang merindu.
Membaca antologi puisi Yanuar seolah diajak menyusuri pengalaman-pengalaman pribadinya. Tengoklah kenangan manis masa lalunya dalam berbagai tulisan tentang Gadis Penjual Bunga (Freesia, Dalam Ingatan, dan banyak lainnya); kerinduan dan cinta kepada kekasih hati (Jeda, Renjana, dan beberapa judul lainnya), kegembiraan dan kebanggaan saat lahirnya putra pertama (Nathaniel I dan Nathaniel II). Juga kepedihan, kerinduan, dan akhirnya ketegaran menghadapi saat sang Papi berpulang untuk selamanya (Serenada Penidur Hujan, dan beberapa lainnya). Jadi, nikmati saja seperti membaca diary yang dibagi oleh seorang sahabat...
Saya selalu mengenal Yanuar sebagai seorang yang rendah hati, tulus, ringan tangan, terbuka terhadap kritik, dan tidak lelah-lelah berusaha menjadi sosok yang lebih baik (dan selalu bersedia direpotkan, hahaha…).
Semoga, kau dan puisi-puisimu selalu bisa menjadi serangkai serenada. Pelipur hujan yang airmata dan mengubahnya menjadi baris-baris kenangan yang mendamaikan.
Sungguh, aku turut bangga untuk diterbitkannya antologi puisimu ini (you deserve it,man!).
Surabaya, Maret 2011
Selalu bangga bisa menyebut diri sahabatmu,
- Micka (Profesor, pendongeng, penyair dan pamanku)
__________________________________________________________
Membaca puisi-puisi Yanuar, terasa pagi dan kebahagian yang mengalir di sana, ikut terbagi ke kita.
Salut atas produktivitas kamu!
- Liza Samakoen (@lizacica, penyair, tinggal di Jakarta)
Membaca antologi Serenada Penidur Hujan saya dibawa ke kelembutan seorang penyair, ada ketenangan menyusup, melenakan pikir
- Ama Achmad (@ama_achmad, penyair, tinggal di Sulteng)
Puisi serenade adalah puisi yang dipersembahkan bagi orang yang dicintai. Sebagian besar puisi dalam kumpulan puisi Yanuar ini menggunakan metafora-metafora dari alam, benda-benda dan suasana. Secara umum puisi-puisi dalam kumpulan ini sangat nikmat untuk dibaca, baris-barisnya mengalir lancar, dengan nada yang tenang. Mungkin yang agak mengganggu, bagi yang tidak menyukai gaya-gaya bahasa lama, akan berkurang kadar penikmatannya. Dengan pengucapan yang sederhana, saya kira Rafael Yanuar telah menemukan pengucapan sendiri dalam puisi-puisinya.
- Nanang Suryadi (@penyaircyber, penyair, tinggal di Malang)
Ada pengalaman dan wawasan bermakna yang sudah mengendap dan terungkapkan lewat kata-kata yang mengkristal dalam puisimu. Tema dan bentuk cukup beragam menandakan wawasan dan kedalamanmu dalam menyeriusi puisi. Sebagai 'pemula' (yang menerbitkan buku kumpulan puisi bukan sebagai penyair) karyamu bisa disejajarkan dgn penyair-penyair 'seangkatanmu'. Yang perlu terus kamu asah adalah 'kekhasan' karyamu (mungkin ibu yang blm menemukan). Sementara, itu dulu komentar ibu. Proficiat!
- Ibu Santi (Guru Bahasa Indonesia)
Gadis yang Menari di Tepi Senja
/1/
Sepulang kerja, aku duduk di bukit rumput, menikmati siraman cahaya matahari terbenam sambil membaca buku yang tadi kubawa. Seperti bertahun silam, senja di kotamu masih sama, tetap indah dengan cemerlang lembayung jingga, menjalin setiap momen menjadi melankolia.
“Langit membuka kanvas seksama menarik kuas – hasilnya pun demikian sempurna, senja begitu indah dan rupawan,” kau pernah bergumam, membangkitkan kenangan pada setangkup tanda perjumpaan kita.
Sebenarnya, aku menyukai senja sejak mengenalmu.
Saat itu, setelah disiram hujan seharian, langit kembali cerah, candhikala membingkai sayu matamu. Di taman, kau dan aku berjalan beriringan. Tak lama, kita pun menemukan tempat yang kering dan lapang. Aku menepikan sepeda dan mulai menggelar tikar. Di tanganmu, ada satu termos teh panas - pun sekantung kue dan dua buah gelas plastik. Aku ingat alasan kita memilih taman ini, senja yang begitu indah dan danau yang membentang di depan kita. Romantis.
Rupanya, kau juga membawa sekeranjang bungamu. Di dalamnya, ada beberapa bunga yang kukenal –mawar, anyelir, tulip, dan – “freesia,” ujarmu, saat aku melihat sekuntum bunga cerah warna, “bunga ini baru aku temukan minggu lalu, warnanya cerah dan beragam, konon, artinya kekanak-kanakan, tapi di satu buku lain juga berarti ketulusan.”
“Kau tahu, tidak, mengapa aku menyukai bunga?” tanyamu, aku melihat kau mulai menyusun bunga-bunga itu.
“Entahlah,” aku mengangkat bahu, “kupikir, aku tak perlu mencari alasannya,“ – meski sebenarnya aku sangat ingin tahu.
Kau tersenyum, “aku menyukai bunga, sebab ia tak abadi, seperti cinta – begitu mungkin dan sederhana. Ketika memandang bunga-bunga ini, aku seperti merasakan pengalaman yang ganjil dan menenangkan.” Kau menyandarkan diri di pundakku, tanganmu membentuk segitiga dan mulai menerawang, aku tak mampu menangkap apa yang kau lihat, “ah, seperti umur manusia,” katamu, dengan suara nyaris berbisik.
Barangkali senja semakin kemerahan, wajahmu begitu rona dan merekah. Sekilas kau menangis, kemudian tersenyum. Bahkan sebelum aku sempat mengusap airmata yang menitik di pipimu. Suasana menjadi canggung.
“Seandainya bisa, aku ingin membaca hatimu dengan segenap sepi yang aku alami sendiri. Aku sering melihatmu termenung, seakan-akan kesedihan begitu menguasaimu.”
Kau tertawa, “tahukah, seorang gadis bisa menuliskan puisi di lembar-lembar udara?”
“Bagaimana bisa?”
“Dengan tarian,” jawabmu, mantap, lalu berdiri dan membungkuk, seperti maestro memberi hormat pada penonton di panggung teater. Kau pun mulai berjinjit seimbang dan bergerak dengan ketukan asal. Pasti kau mengira itu tarian balet, meski gerakanmu seperti angsa yang sedang belajar berenang dengan sedikit improvisasi serupa putaran gasing. Satu kakimu diangkat, kemudian melompat-lompat sebelum kau merentangkan tanganmu sambil berputar-putar. Aku tertawa, “jika itu puisi, pastilah kacau sekali.” Kau cemberut lalu memukul kepalaku –wajah kita begitu dekat kala itu. “Tapi aku suka,” ujarku. Jujur.
Senja masih saja temaram, meski sudah pukul lima. “Senja selalu lebih lama jika datang setelah hujan reda –hei, lihat, ada pelangi!” kau menunjuk lengkung tujuh warna dengan bias cahaya di seberang angkasa, kemudian jatuh merupa bias di depan mata, cerlangnya memantul di kilau danau – “pelangi pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru –“ lagi-lagi kau menari. Lagi-lagi aku harus menahan tawa melihat gerakan asalmu. Kau pandai menyanyi. Tapi jangan sambil menari.
“Suaramu bagus, aku ingin menciptakan lagu untukmu. Seandainya tadi aku membawa harmonika.”
Tapi kau menolaknya, “aku lebih senang jika kau menciptakan lagu untuk kau nyanyikan padaku –bukan untuk aku nyanyikan sendiri,” kau tersenyum dan mengerling. Perbincangan kita akan lama jika kudapan tak segera disantap. Kita bersulang –sebuah kenangan kembali tercipta, dan sekarang begitu manis tercecap.
Aku mengambil kamera dan menyuruhmu berpose. Kupikir aku bisa mendapatkan potret yang bagus senja itu. Tapi ada yang membuat jantungku berdegup lebih kencang – ketika melihatmu tersenyum dengan tangan terbuka seperti hendak memeluk.
Klik!
“Best angle!”
“Kalau fotonya sudah jadi, aku minta satu ya?” ujarmu – sambil membereskan sisa-sisa makanan dan menggendong sekeranjang bunga yang tadi tergeletak di sebelah sepeda. “Aku boleh membeli bunganya satu?” kataku, sambil mengambil beberapa lembar rupiah. “Kali ini jangan gratisan, sebab bunga itu bukan buatku.”
Kau tersenyum dan mengambilkan setangkai mawar dengan secarik kertas sambil menyebutkan angka rupiahnya. “Mau kutuliskan puisi?” katamu seraya mengambil buku catatan puisimu, aku menolak, “tak apa, biar kutulis sendiri,” aku tersenyum, “tapi sepertinya aku lebih suka freesia.” Kau pun mengambilkan setangkai bunga berwarna kuning sambil menyerahkan pena dan kertasnya. Setelah menerimanya, aku langsung menulis beberapa kata dan melipatnya. Aku tersenyum, “ini buatmu.”
Kau terdiam. “Bunga dan sepatah kata ini –menjadi ungkapan perasaanku.” Pipimu merona –kali ini bukan karena rekahan jingga yang memantul, aku tahu.
Seketika maghrib mulai berkumandang, kita pulang sambil bergandeng tangan. “Kau tahu?” bisikmu, “senja ini, aku bahagia, sangat bahagia.”
Seketika langit menjadi begitu rekah.
/2/
Aku menutup buku puisimu.
Memang benar, tidak ada perjumpaan yang sia-sia, bahkan perjumpaan yang begitu singkat dapat meninggalkan kerinduan di benak kita. Sekilas, aku melihat matahari menyisakan sinar-sinar kemerahan di ujung danau, keindahannya masih ada dan nyata, meski aku tak dapat melihat wujudnya lagi. Telunjukku terus menggambar parasmu di lembar udara, sambil menangkap beberapa kenang yang tadi sempat hilang.
Angin menyapa dedaunan. Ranting-ranting menemukan musimnya. Aku berdiri, mengibas celanaku, membersihkannya dari bekas-bekas rerumputan. Sedang kenangan, kubiarkan luruh memenuhi sekujur baju yang kupakai. Senja semakin jauh meninggalkan taman itu.
Seketika malam meninggi, gerimis melintas, lampu kota mulai dinyalakan. Aku melihat kerlipnya, begitu lata dan menusuk. Teringat kembali pertemuan kita, kala kata-kata masih belia. Saat itu, segalanya begitu lancar tertulis.
Senja temaram dan rona di wajahmu, menjadi pertanda
aku sadar sedang jatuh cinta
padamu
–dan hingga kini, aku masih merindukanmu.
/3/
SENJA TEMARAM DAN AKU JATUH CINTA
Ranum musim di taman kota, tak pernah bisa menguraikan
betapa senja, telah membuatku jatuh cinta.
Aku jatuh cinta
: pada rekah senyuman
di sela-sela kenangan penuh bunga.
Saat itu, kita saksikan matahari terbenam di tepi danau.
Hujan reda, waktu berdetak bagai bunyi tonggeret di pohon mahoni.
Kita terkesima…
pada senja berkabut
daun-daun dan rerumputan mulai berembun.
Kini, segalanya tampak begitu sederhana
rindu telah menemukan rumahnya
sepi tak lagi menumbuhkan luka.
Aku tahu, dalam setiap ihwal yang kubaca senja itu
aku terpukau.
Sebab waktu seolah sungai yang kembali ke hulu
jiwaku akan lahir sebagai puisi
melebihi kesunyian doa-doa rindumu.
Namun, bagiku
: kau bahkan melebihi, segala sajak musim semi.
Rafael Yanuar (13 Juli 2011)
Candhikala: Guratan jingga senjakala
Kamis, 18 November 2010
Selamat Ulang Tahun
: Noviyanti Souw
Meresap sepasang sayap November
dalam remang lampu kota
sudah lewat tengah malam
ada segenggam harapan
: menunggu
Kini
Hanya ada temaram lilin dan kerlap-kerlip bintang
menjadi hiasan dalam tubuh
: tubuh puisi
Di sana
kasihmu - kasihku termenung
Dalam kesederhanaan dan kebersamaan
Mungkin
inilah kado Ulang Tahun paling sederhana
yang pernah kau terima
tapi semoga dapat kau peluk
dalam lubuk-lubuk ingatan
Maka
Selamat Ulang Tahun, Kekasih
Tetaplah bahagia
senantiasa
dan mari kita lalui separuh perjalanan
bersama bintang kecil penantian, penuh harapan
Pada tiup lilin ada air mata haru
Semoga selaksa doa kan terkabul
=)
Rafael Yanuar (19 November 2010)
Selasa, 26 Oktober 2010
Secarik Surat
… secarik surat sama halnya serecik jernih air – sangat menyegarkan …
SEBELUM lahir internet, banyak orang menggunakan merpati pos untuk menyampaikan pesan. Entah berupa pesan penting atau tulisan rindu anjangsana, semua digulung dan dipercayakan pada capit kukunya – dan, aku seringkali bertanya, bagaimana bisa merpati menemukan alamat dengan tepat?
Tentu, karena kepak sayap merpati tak secepat internet, sampainya surat membutuhkan waktu beberapa hari, minggu, atau bahkan tahun. Semua dilakukan untuk sekadar mendapatkan informasi dan balasan kerinduan kekasih – romantis, bukan?
Surat-surat tersebut, entah sampai atau tidak, merupakan bukti usaha manusia untuk bisa berkomunikasi. Dan, sebuah surat, kendati memerlukan cukup lama waktu, mungkin cara paling efektif untuk mengabadikan jumpa. Menunggu surat meluncur ke kotak pos – sebelum kita mengambil dan membukanya, adalah petualangan yang sangat menarik! Bagaimana mungkin lembaran kertas dapat menceritakan begitu banyak kisah dan senyuman? Adakah pernah terpikir betapa membahagiakannya menerima secarik tulisan seorang sahabat nun di sana, dan meresap aroma tinta yang masih samar tercium? Jika potret mengabadikan gambar, maka surat mengabadikan kata-kata – hingga di masa mana pun, kita bisa membuka dan membacanya kembali. Terlalu berlebihan bila aku menuliskan “mendekati keajaiban”, meski itulah yang kurasakan saat menuntas penantian kala membaca surat tepat di depan kotak pos.
Tulisan tangan dapat menularkan kehangatan – yang lebih jujur dan lenak kala dibaca. Tapi, semakin mudah komunikasi, surat tertinggalkan dan berakhir menjadi alat transaksi. Sayang sekali, kukira. Aku juga terlarut dalam kesibukan kekinian, hingga melupakan kerepotan menulis surat, apalagi merangkum kata-kata, membeli perangko hingga memercayakan pak pos untuk mengirimkannya. Aku lebih memilih e-mail sebagai media yang jauh lebih praktis, cepat, dan efisien dibanding menulis berlembar-lembar surat. Apalagi dengan hadirnya berbagai jejaring sosial macam Facebook dan Twitter, yang mempermudah komunikasi dan menemukan sahabat-sahabat baru, maka semakin jauhlah surat tenggelam (meski aku belum punya akun Twitter atau Facebook).
Ada gejolak untuk kembali menulis surat – dan bila kutemukan semangat lawasku, aku ingin kembali ke masa di mana surat masih menjadi teman penting untuk bersapa akrab kala jauh.
Tapi, di zaman serba praktis ini, masih adakah yang mau menyempatkan (baca: menyibukan) diri untuk menulis surat barang secarik? Sekadar saling mengenal lewat tulisan, bukan ketikan, melainkan bukti bahwa semangatmu turut terbawa lewat tinta dan aroma kertas. Tentu saja, tak ada penggabungan huruf dan angka untuk mengeja / menyingkat kalimat =)
Bagaimana, pengalaman yang sungguh-sungguh menyenangkan, bukan?
--- Sepucuk Senja
Sepucuk senja tumpah
menjadi tinta
melebur dalam kertas-kertas – jelma puisi tentang
kerinduan
kemudian diam
sampai malam menuangkan relungnya
pada dunia.
Sepucuk lain jatuh
melebur buih-buih
lalu menghilang ditelan kelam
, pun
tak berbekas apa.
Kecuali
kenangan
Rafael Yanuar (25 Oktober 2010)
Kata-kata tak penah abadi, karena itu aku menuliskannya.
Senin, 27 September 2010
Let's Dance in the Moonlight
Berdansa di bawah terang bulan?
Ini ingatan saat aku berkencan dengan istriku. Sabtu malam, aku mengajaknya menonton Lost in Love di salah satu pusat perbelanjaan Cirebon. Aku tertarik pada fokus panorama dalam filmnya, Paris, dan tak peduli apakah jalan ceritanya bisa membuatku berdecak, atau hanya mendesah bosan, jarang-jarang ada film berlatar Paris ditampilkan di sini.
Tapi, saat pertengahan film (skena saat tokoh utama memesan ratusan cangkir kopi) – lampu padam. Layar mendadak putih, jeda sebentar, film dimulai lagi. Kami keluar dan pulang karena adik istriku ketakutan – lampu padam tanpa pemberitahuan, siapa tahan akan ini? Sepanjang jalan, gelap melenggang. Beberapa pedagang menyalakan lilin – minimarket mengaktifkan gensit. Tapi, saat diam beberapa menit, aku menyadari, malam tak begitu gelap. Ada terang bulan dan pijar bintang menyelimuti. Biarpun sunyi, tetap bersinar berbinar-binar. Panorama dan kesan yang ditimbulkan sangat memesona, bahkan jauh lebih menakjubkan dibanding gambaran Paris di layar datar tadi. Aku tak pernah menyadari keindahan ini karena selalu disembunyikan lampu kota
Sambil sesekali menatap pendar bintang, aku merenung, kapan terakhir kali aku bermain di bawah purnama sambil santai dan senang akannya?
Semasa kanak, hiburan utamaku adalah bermain sepeda. Lalu membeli teh bungkus seharga Rp.100,- dan duduk di taman bersama teman-teman. Pun, kala malam tiba, dan bumi bermandi cahaya, kita berperang dengan pedang mainan.
Bukankah anak-anak harus bahagia di masa apa pun?
Tapi, aku menyadari sesuatu. Bintang dan bulan tak pernah berubah, terangnya masih sama – lenaknya juga tetap. Kehangatan kala memandangnya sama dengan bersilam tahun. Meski makna yang ditangkap pasti beda. Mereka masih mengajak dan menemani semua anak untuk menemukan indah kebersamaan.
Kelip bintang yang terpacak di langit – sepertinya mampu mengubah pandangan kita akan hidup. Kebahagiaan ternyata milik siapa saja, seandainya kita mau menatap keindahan ciptaan Sang Pembesar Jiwa. Sebab, kita sebenarnya ada di ruang kebahagiaan, hanya saja, sulit menyadarinya. Atau, mungkin tak sulit, sama seperti menatap bintang di langit dengan penuh sukacita, dan tak menyungut kala rintik gerimis mengenai kening =).
Becak menepi di depan rumah, gelap masih membayangi. Lilin sudah dinyalakan, sekeliling nampak ramai. Rupanya, banyak tetangga memutuskan berbincang di luar. Aku tersenyum pada istriku. ‘Duduk di teras, bagaimana?’ ajakku. Istriku mengangguk, ‘boleh.’
Terang bulan masih ada. Padam lampu akan lama.
Dan aku, tak pernah benar-benar menyukai mati lampu seperti saat ini.
Rafael Yanuar (26 September 2010)
Perjumpaan:
Kenang-kenangan waktu pacaran dulu =). Dan, mati lampu benar-benar membuka pemahamanku, bahwa di masa sulit sekalipun, ada keindahan tersangat nyata.
Rabu, 01 September 2010
Serenada Penidur Hujan
: Papi
Saat malam tiba - dan lelap gawaikan hening, peri-peri pemetik hujan berkumpul di satu sisi hutan kecil. Mereka meminta pada daunan untuk merenda pagi agar khias lembayung jelma lukisan seindah candhikala. Lalu sepanjang hari, hujan tak turut tenggelam. Rintiknya indah dipagut kesedihan, membingkai sunyi, larut dalam rananada penidur awan. Peri kecil tak mau gerimis melusuh diterik siang, dan saat matahari meninggi di pucuk langit, mereka meminta kunang-kunang menyebarkan abu pada mendung. Hujan pun datang – jatuh mengabarkan kesedihan selaik air mata menyingkap haru di setiap tumpahnya.
Ya, mesti ada yang bisa menjaga agar hujan selalu sepanjang hari.
Kini malam merajut hitam, menidurkan hujan diceruk angkasa. Tirai hitam merenda api di persendian kala. Rembulan tinggi melagukan timang pada telaga. Namun, bila kau sudi menyipitkan mata sejenak, kau bisa melihat, sosok pemuda sebatang kara, menunggu gerimis tumpah nun di sana. Ialah pengelana yang diceritakan angin pada pohon-pohon dan daun-daun; konon, kekasihnya perajut hujan, menenun luka sepanjang masa, menitipkan hati pada rintik air mata.
Mendengar dongeng itu, peri-peri kecil mengumpulkan satu-satu rintik terpedih di antara ribuan tetes air hingga membentuk ukiran di wadah kaca, berhias pita dari serat-serat kulit pohon pinus. Mereka menangis kala mendengar nyanyian yang dilantunkan angin. Dan semenjak saat itu, air mata pengelana tak pernah mencapai tuntas - sebab ia kehilangan puncak kenangan di setiap napas hujan.
Pagi tiba - peri kecil kehilangan pastel senja. Hingga mereka tak bisa menggurat jingga pada pagi. Warna abu tak mampu menutup jalan matahari, hingga sinarnya menyusup celah di wadah kesedihan – terpecah jelma air mata bentuk hujan tanpa awan. Pengelana yang merasakan air mata tumpah di telaga, menangis sepanjang hari. Sambil bibirnya berbisik ngilu.
Ingin kupetik sunyi di matamu, Hujan. Agar sepi merapat di pelabuhan jiwa - aku bergejolak merangkai kenangan menjadi daun-daun jingga, apatah mampu terbaca di sekujur mimpimu?
Peri kecil yang melihat hujan tak digores gurat jingga - melusuh pada doa-doa. Rupanya, hujan telah menyadari perjalanannya sebagai air mata dan tulus melepaskan pertemuan. Ia tahu, tak ada perjumpaan yang sia-sia, selalu ada makna di tiap jeda perpisahan, meski air mata mesti tercipta dari penderitaan, ia lahir sebagai keelokan. Karena kenangan pula laiknya hujan, setipis jarak antar-jemari dan rintiknya air. Dan waktu telah membuatnya berarti.
Aku tahu, perpisahan halnya satu fragmen yang akan mempertemukan kembali – di sana, selalu ada kenangan tatkala rindu menjelma lingkaran dan ucap kata.
Dan kini,
pada sekecup kenangan pagi
hujan pun tertidur.
Rafael Yanuar (29 Juli 2010)
--- buat papiku yang kemarin ( minggu 25 Juli 2010 ) berpulang ke sisi-Nya.
Rabu, 14 Juli 2010
Mengakses dan Menguatkan Hati
Untuk mengakses Hati Nurani, sebelumnya kita harus membersihkan hati. Langkahnya, santai, senyum lepas sepenuh kasih / perasaan pada Tuhan, kemudian mulai berdoa. Memohon pada Tuhan agar semua emosi negatif di hati dibersihkan dan digantikan dengan Cahaya KasihNya. Lakukan satu persatu untuk setiap emosi, misalnya:
Tuhan Yang Terkasih, berkatilah Hati kami agar semua kemarahan berganti dengan Cahaya dan KasihMu
Tuhan Yang Terkasih, berkatilah Hati kami agar semua kesombongan berganti dengan Cahaya dan KasihMu
Begitu seterusnya untuk tiap emosi, mulai dari kemarahan, kesombongan, iri dengki, sifat mementingkan diri sendiri, kelicikan, keserakahan dan sebagainya.
Ampuni juga semua orang yang bersalah kepada kita. Mohon bantuan Tuhan agar kita dibantu untuk mampu memaafkan dengan setulusnya, serta agar rasa jengkel, kebencian, kemarahan, kesedihan, ketidakpuasan yang disebabkan orang lain, berganti dengan Cahaya dan KasihNya.
Mohon pada Tuhan agar Hati dikuatkan dan dipenuhi oleh Cahaya dan KasihNya.
Mohon pada Tuhan agar setiap pikiran, perkataan, dan perbuatannya selalu sesuai dengan hukum KasihNya.
Mohon pada Tuhan agar kita menjadi alatNya yang baik agar Cahaya dan KasihNya memancar ke semua makhluk dan memberikan yang terindah.
Lakukan doa ini setiap hari. Doa ini tidak untuk menggantikan doa yang biasa kita pakai. Hanya menambahi, dengan berfokus kepada membersihkan hati. Bukan juga latihan dari agama tertentu. Ibarat hubungan antara makhluk dengan Penciptanya.
Jadi jangan takut akan berakibat negatif pada keimanan atau apapun, karena pemberianNya selalu yang terbaik. Kata Tuhan bisa diganti dengan Allah, atau Bapa, atau Tuhan Yesus, terserah bagaimana kita biasa menyebut Beliau dengan nama apa.
Biasanya, ketika memohon pada Tuhan agar emosi negatifnya dibersihkan, terasa ada tarikan-tarikan di Hati (permukaan dada), terkadang emosi-emosi yang tersimpan juga dibongkar, sehingga wajar kalau misalnya kita ingin menangis atau tertawa. Ini adalah bagian dari proses pembersihan emosi, jangan di tahan. Lepas saja. Percaya dan berserah diri pada Tuhan. Beliau ingin memberi yang terbaik untuk hati kita. Jangan takut tidak khusyu, biasanya setelah fase pembersihan ini selesai, setiap berdoa justru sangat khusyu dan dalam, bahkan Kasih Tuhan dapat dirasakan mengalir berkelimpahan dalam Hati dan memancar ke seluruh alam.
Biasanya, setelah berdoa sekitar 4-10 minggu, akan ada perasaan ringan, damai, dan bahagia di permukaan dada. Ini artinya hati sudah mulai terbuka. Cahaya Hati mulai memancar ke jiwa, pikiran, dan perbuatan sehari-hari. Kita akan merasakan damai sejahtera, merasakan KasihNya benar-benar berkelimpahan.
Ketika berdoa, ikutilah perasaan ringan dan damai yang mengalir. Semakin diikuti, semakin dalam. Kuncinya:
Santai, baik fisik maupun pikiran. Jangan tegang atau terlalu mengharap sesuatu. Senyum dengan lepas ke hati (tidak perlu bingung bagaimana caranya, lakukan saja, hati pasti mengerti). Senyum dengan sepenuh kasih dan perasaan. Mengikuti rasa yang muncul, biasanya ringan, tenang, damai dan sebagainya.
Harus disadari, hanya Tuhanlah yang bisa membersihkan debu-debu dari emosi negatif. Kita hanya bisa memendamnya, ataupun menghilangkan gejalanya. Tapi debunya masih di dalam. Nah, ketika melakukan doa ini, timbunan-timbunan debu / kotoran selama bertahun-tahun akan mulai dibersihkan satu demi satu, disyukuri saja proses ini.
Setelah hati mulai terbuka dan ketenangan, kedamaian, serta keindahan Cahaya dan Kasih Tuhan dapat dirasakan mantap di hati, maka berikutnya kita bisa latihan untuk menguatkan Hati.
Ketika Hati sudah kuat, kita akan bisa menyadari banyak hal tentang Tuhan, arti kehidupan, rahasia-rahasia, bahkan hal-hal yang tidak diketahui oleh otak manusia.
Hati akan mengarahkan kita kepada Tuhan dengan indahnya.
_@_
Perjumpaan
Pesan ini ditulis oleh Sahabatku, Firdaus / Golden Lotus dan dikirim melalui e-mail pada Selasa, 03 Maret 2009. Semoga bermanfaat :)
Senin, 12 Juli 2010
Lintang Gerimis Pagi
Selasa, 13 Juli 2010
Daunan merobek layar pada pagi, terbang mengoyak sepi pada diri. Pukul 10.40, laju mobil dan motor kencang berarak, angin menunjukkan barat. Sekalipun diam pada sepenggal jejak, perca kelabu masih menusuk nadi – sepekat ruang berselimut mendung pada rintik.
Hujan mengibas daun, lenggang tak bertepi. Penat jadikan rindu nyata pada jiwa. Luruh air jelma embun di jendela, leburkan nada-nada. Dalam jenak, aku ingin mengeja bait nurani. Terpuisikan.
Entah kapan bisa kulihat lagi, sejuk hujan mengibaskan penat. Istirah. Di peraduan khayal dan mimpi panjang. Ia teduh kala meratap segaris congkak kehidupan, terpiturkan pada kita. Terbangunkan. Melerai jiwa pada amarah dan ketidakdewasaan.
Selarik tuntas pertemuan, terpagutkan kata, aku bertanya, bagaimana menemukan keberanian untuk senantiasa jujur, sedang tak yakin aku lintasi – sepenggal jarak antar kebisuan?
Ucap kata maaf, sungguhpun tak sesukar menerjang badai angkara. Tapi mengapa? Pilu lidahku, merapalkannya?
Rafael Yanuar (13 Juli 2010)
