Sayup-sayup kudengar
sebuah kidung, melagukan sepi di kejauhan
Engkaukah pelantunnya?
01 Maret 2011
Kamis, 16 Februari 2012
Hujan Selatan
Dalam sempadan senja aku melihat
rerimbun cemara kekar, di puncak pendakian
mendung terbang melintas, aku menangkap sunyi
dalam saku puisi
: hati pun hening bening, meski hujan deraskan sepi.
O, malam turun bagai lukisan Cina kuno
purnama benderang di atap langit
bunga rumput segar di mana-mana
gemericik sungai berpadu angin utara
elang malam melambung tanpa suara.
Aku pun mendaki sedikit lebih dalam
mencari kolam seroja
: padma bermandi air bulan, di mana rusa
dengan tenang bertelungkup
mengecup airnya.
Dengan harmonika di saku kiri
aku renungi semesta sunyi
risau angin masygul mendesaukan namamu
manakala langit bentangkan waktu
dan rinduku, turun sebagai hujan
di sudut kotamu.
Tahukah kamu —
begitu tenteram alam sembunyikan waktu
aku tak mampu membendung rindu.
— 16 Februari 2012 —
Teruntuk Amalia Achmad, pun foto pemberiannya
Risalah
PADA mulanya
hanyalah kata menetes
sebagai untaian syair
mengalir menuju hilir
: hilir makna.
PADA akhirnya
damai hanyalah riam sejuk
di mana airnya, bening hingga dasar berbatu
sementara pucuk pinus luluh dicumbu kesiuh angin
: doa tertulis di lembar daun-daun.
LIHAT, Kekasih
betapa embun selalu tersenyum
mendahului mekar berbagai kuntum
bertahan dalam musim dan hujan
sementara semesta tak letih membuatkan dian
di bening langit-Nya.
ALANGKAH
siapa tak ingin berjalan di sekitarnya
bermandi sejuk udara di hamparan ngarai hijau
di mana hangatnya mampu menawar gigil
manakala jiwa kita menjelma kupu-kupu
terapung di semenanjung cakrawala
bisikan rahasia di helai pawana, bergelora
sementara ribuan siul pipit serupa ruah suara
menuntun langkah membuka tirai kabut
: merasakan-Nya dalam segala ada dan tiada.
OH, betapa rahmat-Nya menyesaki udara
membelai hening, menelusup telinga pikir
membisiki risalah tentang waktu
: memberi getar pada hidup.
HINGGA tarikh mengalir menuju senja
matahari beranjak terbenam
malam luruh mengurai rindu tanpa kata
dan kita pun
mengerti cinta terindah
tak bertindak dalam tindakannya.
Kolaborasi bersama
Amalia Achmad dan Rafael Yanuar
11 Februari 2012
Rabu, 01 Februari 2012
(Edisi Februari 2012) — Cavalcade of Stars
Kumpulan lagu Jepang favorit saya hadir kembali dalam Cavalcade of Stars. Berhubung sekarang bulan Februari, jadi lagu-lagunya harus bernuansa romantis. Berikut susunannya.
• Kana Uemura - Message
• TEE - Aishitsuzukeru Kara
• Back Number - Check no One Piece
• Angela Aki - Without You
• Ohashi Trio - Monster (featuring Hata Motohiro)
• Bonnie Pink - Joy
• Moumoon - Uta wo Utao
• Dadad - Go Around
• Anri Kumaki - Kyou ni Naru Nara
• Tokyo Jihen - Time Capsule
• Ohashi Trio - Be There (featuring Bonnie Pink)
• Superfly - Secret Garden
• Tomita Lab - Ano Ki no Shita de Aimashou (featuring Yuki Ando)
• Ayaka - Yasashii Ao
• Hata Motohiro - End Roll
• Kana Uemura - My Favorite Songs
Angin Pantai
Dik, matamu pijar mentari dipeluk senja
jatuh tenggelam di lubuk samudera
membentuk kenangan di rembang ingatan
menjadi anak-anak rindu dikejar gelombang
dan angin berlarian di kelopaknya
sebelum senyap kembali datang
ketika kau menutup mata.
Dik, di pesisir pantai nan senyap, bayanganmu lenyap
kini ada perasaan menderas bagai ombak nerkamkan karang.
Sedang senja membawa pesan kematian
burung camar tegar menera lara
kepaknya karam di debur samudera.
Dik, di sepanjang pantai angin bertiup
seperti ombak bergelayut di punggung laut
menjadi tiada direnggut maut.
Di sanalah kau dan aku terlahir
: sebagai perahu, bertolak kehiliringatan.
— 4 Juli 2011 —
Pembuat Teh
Malam dalam secangkir teh
kauseduh bersama rembulan
harum daunnya meriap di udara
menebar rasa tenteram di dalam dada.
Sementara hujan turun di depan jendela
rintiknya meleleh dalam puisi
: secarik rindu sengaja kita tuliskan.
Malam dalam secangkir teh
berkelindan dalam rindu sederhana
kaubersihkan kenangan di ceruknya
membiarkanku menyesap murni teduhnya.
Sementara hujan membasahi tasik
barik mendung masih menghias mega,
dan puisi
: kukuh membuatkanmu cahaya.
Malam dan secangkir teh
hanya menyisakan cangkir di sudut lemari
di mana ceruknya menghitam digerus waktu
sementara pemiliknya
kini sudah tak lagi ada.
— 31 Januari 2012 —
Senin, 30 Januari 2012
Malam dan Sajak tentang Kau dan Hujan
Jumat, 27 Januari 2012
Januari yang Indah
: Noviyanti Souw
Pada Januari, kita saling menaut janji—mengarungi hidup berdua, sampai waktu menutup usia. Cincin terlingkar di jari manismu—mengikat masa depan kita, menutup jeda cinta, menjadi rasa percaya. Sekian banyak Januari telah kita lalui, berbagai kenangan tercecap sudah, namun rindu belum jua memudar, menjaga cinta kita tetap nyala--seandainya kita terpaksa jauh.
Kasih, segalanya telah dituliskan Tuhan. Jiwa kita satu, selamanya.
________________________________________
Januari yang Indah
Chrisye
Januari yang indah, mula cinta kita bersemi
tak mungkin akan kulupakan, sampai akhir nanti.
Januari yang indah, saksi kasih kita berdua
semoga abadi untuk selamanya, kasih di antara kita.
Peluklah aku
jangan kau lepaskan lagi
kuingin selalu
tidur dalam pelukanmu, Kasih.
Jangan pernah, Sayang
kautinggal diriku ini
kuingin selalu ada di sisimu
bersamamu.
Album Sendiri Lagi
Jumat, 13 Januari 2012
Januari yang Tersenyum
: Untuk saudaraku Rafael
Ada yang berjalan, berjinjit di antara angka-angka almanak di rumahmu, sebuah kebahagian.
Sampai ia di sebuah Januari.
Berdiri kebingungan di antara deret hari. Memilih.
Lalu, tigabelas.
Seketika, tangis pecah di rumahmu.
Bukan duka, tapi suka.
Bukan kesedihan tapi lengkung senyuman baru.
Langit dan gemawan tertawa.
Disana, terbungkus doa, bahagia dihantar di rumahmu. Mewujud putra kecil dalam hangat dekapan ibu, merupa kau dalam selimut biru
Sejak itu, setiap Januari ada yang tersenyum di langit--sejak itu ada semesta cinta di tempatmu berdiam.
— 13 Januari 2012 —
Amalia Achmad
Terima kasih, Saudaraku, kado puisinya benar-benar membuat Januari terasa lebih hangat, meski musim di kotaku, masihlah hujan.
(Bukan) Dongeng Kecil
/1/
Duduklah dengan nyaman, Sayang
aku punya cerita –
Pada suatu hari di mana hari belum pernah ada.
Tuhan menyeberangi lautan, Ia terpana
langit masih kosong
tak ada jejak telapak pada permukaan tanah
bunyi menjadi setipis sunyi
bagaimana pagi bisa jadi pagi – keluh-Nya
maka, ditaburkannya bintang
dikembangkannya layar di lubuk angkasa
naungilah cinta di bumi – sabda-Nya
dan Ia menamainya semesta.
Namun, ketika angin pertama mulai berhembus menyentuh bumi
cuaca menjadi dingin.
Tuhan pun menakar hangat di tepian pantai
dan termangu
Coba tengok –
demikian sunyi, birahi pohon-pohon
pada tanah sehabis hujan.
Sedang daun-daun, masih lelap dalam kabut
kabut pagi.
Maka ditebarkannya cahaya
dilepaskannya bayang-bayang.
Kelak, kita menamainya matahari – bisik-Nya
sebab ia bakal memulai dan mengakhiri hari.
Setelah semua dijadikan
Tuhan memandang ciptaan-Nya
betapa baik, sungguh betapa baik – kata-Nya.
Ia pun tertegun
saksikan burung-burung bercericit di ranting tetumbuhan
mendengar semilir angin bersiup di tenang rerumputan
di bawah pohon ek, dibentuknya Adam dan Hawa.
Taman Eden – Tuhan termenung.
Kebahagiaan bagi ciptaan baru.
/2/
Malam hening
berbayang-bayang tebing
bulan berselimut kabut menyentuh relung bumi.
Burung-burung melintas jembatan
kota terkurung dalam sunyi tak tercatat.
Tuhan pun terkantuk di tepi kolam
sebelum tidur, Ia panggil malaikat pemetik harpa
tahu saja Tuhan suka lagu apa.
Di telaga
angin sekadar berbisik tanpa mengacaukan aliran air
di dalam perahu daun berbaring
lelehan bulan menyentuh wajah Tuhan
muka tidur-Nya teduh nian.
Tuhan pun bermimpi, indah sekali
Maka – dijadikanlah kamu.
— 25 Agustus 2011 —
Dalam bahasa Ibrani, Eden berarti kebahagiaan dan kesenangan hati.

